Sudah hampir lima minggu (sejak saya menulis “SENI ITU UNTUK APA? (#1)”
di 16 Juni 2014), ternyata saya telah berdiskusi secara tak langsung dengan
mahasiswa dan mantan mahasiswa yang telah rela memberikan apresiasinya atas tulisan
saya melalui comment di blog arteastism. Meskipun ada juga komentar dari sejawat dosen
pada tulisan saya lewat Whatsapp
sebagai berikut: “…anything you’ll say”. Terimakasih sahabat-sahabatku… Sekarang
sampailah saya pada “SENI ITU UNTUK APA? (#5).
Sunday, July 13, 2014
Sunday, July 6, 2014
SENI ITU UNTUK APA? (#4)
Masih kagum atas apresiasi pakar matematika ITB terhadap seni (he he…,
karena tidak semua teman bergaul saya yang berkecimpung di bidang seni dan
pendidikan seni, memiliki apresiasi seni yang seindah itu), berikut ini akan
saya kutip ungkapan Iwan Pranoto dalam opini Kompas di Jumat, 20 Juni yang
lalu. “Jika kreativitas dan pemikiran kritis telah disadari merupakan kemampuan
utama hari ini, berkesenian harus merasuk di semua jenjang pendidikan. Seni
bukan disiplin pelengkap… Sains membutuhkan ‘kegeniusan dan kesintingan’ seni”
(Pranoto, 2014).
Subscribe to:
Posts (Atom)