Sudah hampir lima minggu (sejak saya menulis “SENI ITU UNTUK APA? (#1)”
di 16 Juni 2014), ternyata saya telah berdiskusi secara tak langsung dengan
mahasiswa dan mantan mahasiswa yang telah rela memberikan apresiasinya atas tulisan
saya melalui comment di blog arteastism. Meskipun ada juga komentar dari sejawat dosen
pada tulisan saya lewat Whatsapp
sebagai berikut: “…anything you’ll say”. Terimakasih sahabat-sahabatku… Sekarang
sampailah saya pada “SENI ITU UNTUK APA? (#5).
Sedikit demi sedikit mulai terurailah kegelisahan saya atas
kesalahpahaman banyak orang tentang seni. Lewat ‘Filsafat Seni’ nya Jacob
Sumardjo (2000), saya juga mendapatkan jawaban atas kesalahpahaman orang
tentang seni, dan bagaimana kita bisa mencapai kesepahaman tentang seni. Jadi,
mungkin tulisan ini akan menjadi tulisan yang terakhir untuk seri tulisan
pendek saya yang bertajuk “SENI ITU UNTUK APA?” di blog arteastism.
Kebetulan juga
(kebetulan atau karena kehendak Allah ya?), pagi tadi, hari Minggu tanggal 13
Juli 2014, saya membaca rubrik ‘Catatan
Budaya’ di Kompas Minggu yang ditulis oleh Gunawan Raharja, yang mengaku
sebagai penulis dan seorang buruh film. Artikelnya berjudul “Berkesenian Itu
Sendiri dan Kesepian”. Dalam artikel tersebut Raharja banyak memperbincangkan
antara lain tentang semacam kesalahpahaman, keberjarakan, keanehan, sampai
keterpinggiran seni dalam masyarakat. Perenungan dan kontemplasi saya menjadi
semakin intens dan panjang, ketika saya
mencoba mengulang-ulangi membaca, seakan saya mendapat dukungan atas keyakinan
saya tentang misteri seni dan berkesenian. Berikut akan saya kutip kata-kata
Raharja yang menginspirasi saya dan saya anggap penuh makna itu:
Berkesenian
adalah sebuah kerelaan. Rela untuk tidak dipahami dan rela untuk tidak
dimengerti. Tidak ada defenisi yang tepat untuk mengatakan mengapa seorang
seniman rela untuk menghabiskan hidupnya untuk sebuah konsep kesenian yang
diyakininya. Dengan mengorbankan nilai riil yang dipahami manusia lainnya
sebagai sinyal kebahagiaan. Ada seniman yang rela untuk berpisah dengan
keluarganya, menghabiskan banyak uang atas nama kesenian.
Laura
H Chapman … mengatakan bahwa kesenian mempunyai fungsi memberi arti pencerahan
bagi masyarakat. Sebuah pencerahan tidak selalu diresepsi dengan tepuk tangan
dan penghargaan di atas panggung. Bisa jadi hanya menjadi serpihan daun di atas
tanah, yang hancur perlahan tetapi menjadi penyubur bagi bumi (Raharja, 2014).
ditunggu tulisan berikutnya.. :)
ReplyDeleteseni itu untuk diri sendiri dalam konteks memuaskan hasrat berkesimanan.
ReplyDeletesaya sependapat dengan yang terurai. tapi selalu ada sebuah pertentangan dan mysteri dibalik seni
ReplyDelete