Masih kagum atas apresiasi pakar matematika ITB terhadap seni (he he…,
karena tidak semua teman bergaul saya yang berkecimpung di bidang seni dan
pendidikan seni, memiliki apresiasi seni yang seindah itu), berikut ini akan
saya kutip ungkapan Iwan Pranoto dalam opini Kompas di Jumat, 20 Juni yang
lalu. “Jika kreativitas dan pemikiran kritis telah disadari merupakan kemampuan
utama hari ini, berkesenian harus merasuk di semua jenjang pendidikan. Seni
bukan disiplin pelengkap… Sains membutuhkan ‘kegeniusan dan kesintingan’ seni”
(Pranoto, 2014).
Relatif sulit memang
untuk meyakinkan betapa manfaat seni dalam pendidikan kepada teman-teman
pendidik seni sekalipun, ketika peran seni dalam pendidikan masih banyak
dipandang sebagai pelengkap kehidupan saja. Padahal di Universitas Parahiyangan
Bandung, sudah sekitar sepuluh tahun matakuliah ‘Estetika’ menjadi mata kuliah
‘wajib’ bagi seluruh mahasiswa S1 di semua Fakultas (Fakultas Ekonomi, Fakultas
Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Filsafat,
Fakultas Teknologi Industri, dan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains),
sebagai Mata Kuliah Umum (MKU). Meskipun
Bambang Sugiharto (2013:9) sempat menyatakan sebagai berikut:
Awalnya
baik mahasiswa, orang tua mereka, bahkan dosen-dosen bidang lainpun, selalu
saja mempersoalkan mengapa matakuliah itu dianggap penting. Namun ternyata,
setelah mengalami sendiri perkuliahan itu, evaluasi akhir dari setiap angkatan
selalu saja terbalik: umumnya mahasiswa merasa bahwa Estetika adalah matakuliah
yang justru mereka anggap inti dalam pendidikan, dan paling mengasyikkan.
Dari paparan di atas,
kemudian saya menjadi merefleksi ungkapan sejawat dosen yang pernah semobil
dengan saya dari bandara Juanda itu dengan ungkapan Yacob Sumardjo (2000),
bahwa telah banyak terjadi kesalahpahaman tentang seni, itulah sebabnya para
penanggap seni juga amat terbatas. Seperti dikatakan Sumardjo (200: 222)
sebagai berikut: “’Masyarakat seni’ tak lebih sama dengan senimannya sendiri.
Masyarakat teater Indonesia adalah ‘orang-orang teater’. Masyarakat seni rupa
Indonesia adalah ’orang-orang seni rupa’”. Masalahnya sekarang adalah, siapakah
yang bertugas memperkecil kesalahpahaman seni? Kata Sumardjo (2000:216) sebagai
berikut: “Tentu saja mereka yang memiliki idealism pemasyarakatan seni”. Lalu,
bagaimana mempersempit wilayah kesalahpahaman seni dan memperluas kepahaman
akan seni? Kata Sumardjo lagi: “ …melalui pendidikan nonformal. Ini berarti
kerja keras kaum kritikus, guru seni, dan pemikir seni”. S e m o g a
sangat menarik memang seorang Guru Besar Matematika berbicara pentingnya seni bagi kehidupan., seni juga bagian dari berbagai bidang kehidupan manusia, dalam hal ini salah satunya seni berperan menumbuhkan kreativitas dan pemikiran kritis manusia yang pada dasarnya memiliki bidang keahlian masing2, dengan seni sangat dimungkinkan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat dalam kehidupan (penemuan baru, ilmu pengetahuan baru dll)
ReplyDeleteSaya pikir jika senimam masih merasa "asing" dgn lingkungannya dlm berkarya, ini yg smkn membuat jarak antara iklim seni (murni) dan masyarakat it sndr..
ReplyDeleteketika seni hanya dihadirkan d ruang2 eksklusif, maka pendatangny pun eksklusif
ketika seniman masih kukuh membangun simulakrum makna pada karya seninya, maka hanya org2 tertentu (mgkn yg bnr2 tertarik) sj yg akan mau mengapresiasinya..dan org awam (sebutan gampang n serampangan utk menyebut masyarakat yg berjarak pd keg apresiasi pd seni murni) akan smkn menganggap seni murni memiliki dunianya sendiri yang sulit dimasuki oleh awam..
tugas n tanggung jwb seniman tdk hanya berhenti pembuatan karya dan aktivitas pameran, tp jg mendekatkan keberjarakan seni murni dan masyarakat awam SELAMA DIRASA KARYA TRSBT MEMILIKI "SESUATU" YG BAIK (tentu kebaikan ini relatif) DAN PENTING UNTUK MASYARAKAT LUAS..karena itu jg bagian dr kekaryaan.
seni murni butuh perluasan konteks
terutama dalam pendidikan
baik formal maupun nonformal
Karena tdk ada gerbang yang bs lbh dalam selain gerbang pendidikan tsbt..
Dan ketika memang spirit karya trsbt penting untuk diketahui, knp harus diberjaraki..
Sekali lagi, seni seharusnya memperluas cakupan konteksnya, bersosialosasi dgn konteksnya, dan meningkatkan hubungan dgn subjek interaktifnya..
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete