Sudah hampir lima minggu (sejak saya menulis “SENI ITU UNTUK APA? (#1)”
di 16 Juni 2014), ternyata saya telah berdiskusi secara tak langsung dengan
mahasiswa dan mantan mahasiswa yang telah rela memberikan apresiasinya atas tulisan
saya melalui comment di blog arteastism. Meskipun ada juga komentar dari sejawat dosen
pada tulisan saya lewat Whatsapp
sebagai berikut: “…anything you’ll say”. Terimakasih sahabat-sahabatku… Sekarang
sampailah saya pada “SENI ITU UNTUK APA? (#5).
Sunday, July 13, 2014
Sunday, July 6, 2014
SENI ITU UNTUK APA? (#4)
Masih kagum atas apresiasi pakar matematika ITB terhadap seni (he he…,
karena tidak semua teman bergaul saya yang berkecimpung di bidang seni dan
pendidikan seni, memiliki apresiasi seni yang seindah itu), berikut ini akan
saya kutip ungkapan Iwan Pranoto dalam opini Kompas di Jumat, 20 Juni yang
lalu. “Jika kreativitas dan pemikiran kritis telah disadari merupakan kemampuan
utama hari ini, berkesenian harus merasuk di semua jenjang pendidikan. Seni
bukan disiplin pelengkap… Sains membutuhkan ‘kegeniusan dan kesintingan’ seni”
(Pranoto, 2014).
Sunday, June 29, 2014
SENI ITU UNTUK APA? (#3)
Masih
terinspirasi dan tertarik untuk mengutip pendapat Bambang Sugiharto (2013:39),
berikut ini adalah kutipan yang saya pilih: “Seni murni ibarat menu empat sehat
lima sempurna, yang penting untuk nutrisi ruh batin kita. Seni terapan
(dekoratif, pop, hiburan) ibarat snack.
Kalau batin hanya diberi makan snack belaka
maka ia akan kurang gizi, malnutrisi, tidak berkembang menjadi matang dan
mendalam.” Demikian ungkapan Bambang Sugiharto yang akhirnya bisa
menggaristebali keyakinan saya bahwa keberadaan seni dan berkesenian murni itu
membuat hidup batin manusia menjadi lebih sehat.
Sunday, June 22, 2014
SENI ITU UNTUK APA? (#2)
Hari
Jum’at tanggal 20 Juni 2014 kemarin, saya membaca opini Kompas yang ditulis
oleh Iwan Pranoto, seorang Guru Besar Matematika ITB, yang berjudul ‘Tentang
TRIMS’. Pada dasarnya dalam tulisan
tersebut, Profesor Iwan Pranoto mengungkapkan akan pentingnya peran seni dalam
kehidupan manusia. Bahkan dalam tulisan itu juga dikemukakan keyakinan Steve
Jobs, bahwa kreativitas dan inovasi STEM (science,
technology, engineering, and mathematics) membutuhkan unsur seni dan
kemanusia-an. Selanjutnya Iwan Pranoto juga mengemukakan bahwa: “Dalam
pendidikan klasik, kegiatan berkesenian merupakan unsur yang tak terpisahkan.
Seperti dalam pendidikan liberal art,
yang bertujuan agar pelajar mengembangkan dirinya untuk menjadi warga negara
yang berpikir merdeka dan peduli, seni adalah salah satu wahananya.”
Monday, June 16, 2014
SENI ITU UNTUK APA? (#1)
Pada
suatu hari di akhir bulan Mei 2014, saya semobil dengan kerabat sejurusan di
Fakultas Sastra – Universitas Negeri Malang, dalam perjalanan dari bandara
udara Juanda Surabaya ke Malang (mudik). Dalam perjalanan berdua sekitar 2 jam yang
ditemani seorang sopir travel tersebut, telah mengurai sejumlah diskusi dan menambah
sejumlah perdebatan dalam hati, sekaligus makin menambah kegelisahan yang perlu
diurai lanjut dalam forum ini. Diskusi tersebut diawali dari cerita saya tentang
keterlibatan saya dalam pameran seni rupa bertajuk ‘The Other Side Of Woman Educators’, yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung pada tanggal 25 April 2014 yang lalu. Cerita saya kemudian dilanjutkan
oleh cerita dari kerabat sejurusan tadi dengan cerita tentang keterlibatan
ibu-ibu (muda mungkin ya?) di sekitar kompleks perumahan beliau yang punya hobi
melukis, dan para ibu tersebut belajar
melukis dengan didampingi oleh sahabat seniman dari Batu. Nah, kemudian dari
sinilah kegelisahan saya mulai terusik. Saya berkomentar dalam hati: “Bagus
lah! Setataran ibu-ibu rumah tangga di kompleks masih ada yang sadar seni”,
sambil menunggu komentar sang kerabat selanjutnya. Benar saja, kerabat
sejurusan saya itupun berkomentar: “Baik saja sih les melukis seperti itu
dilakukan untuk sekedar menyalurkan hobi, tapi kemudian manfaatnya dan prospek ke depannya buat apa?”
Subscribe to:
Posts (Atom)