Pada
suatu hari di akhir bulan Mei 2014, saya semobil dengan kerabat sejurusan di
Fakultas Sastra – Universitas Negeri Malang, dalam perjalanan dari bandara
udara Juanda Surabaya ke Malang (mudik). Dalam perjalanan berdua sekitar 2 jam yang
ditemani seorang sopir travel tersebut, telah mengurai sejumlah diskusi dan menambah
sejumlah perdebatan dalam hati, sekaligus makin menambah kegelisahan yang perlu
diurai lanjut dalam forum ini. Diskusi tersebut diawali dari cerita saya tentang
keterlibatan saya dalam pameran seni rupa bertajuk ‘The Other Side Of Woman Educators’, yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung pada tanggal 25 April 2014 yang lalu. Cerita saya kemudian dilanjutkan
oleh cerita dari kerabat sejurusan tadi dengan cerita tentang keterlibatan
ibu-ibu (muda mungkin ya?) di sekitar kompleks perumahan beliau yang punya hobi
melukis, dan para ibu tersebut belajar
melukis dengan didampingi oleh sahabat seniman dari Batu. Nah, kemudian dari
sinilah kegelisahan saya mulai terusik. Saya berkomentar dalam hati: “Bagus
lah! Setataran ibu-ibu rumah tangga di kompleks masih ada yang sadar seni”,
sambil menunggu komentar sang kerabat selanjutnya. Benar saja, kerabat
sejurusan saya itupun berkomentar: “Baik saja sih les melukis seperti itu
dilakukan untuk sekedar menyalurkan hobi, tapi kemudian manfaatnya dan prospek ke depannya buat apa?”
Pada saat itu saya hanya berkomentar
kecil untuk memberikan tanggapan atas komentar kerabat sejurusan itu, tanpa
berupaya untuk masuk dalam diskusi yang lebih panjang di perjalanan yang
relatif pendek tersebut. Saya hanya mencoba meyakinkan masa depan seni dengan
mengutip ungkapan Djoko Pekik ketika diwawancara oleh Kompas kira-kira sebulan
yang lalu dalam kolom berjudul ‘Djoko Pekik – Buaya Muntah’, sebagai berikut:
“apakah lukisan ini pesanan orang?” Jawab Joko Pekik adalah sebagai berikut: “Tidak
ada (orang) pesan, yang pesan hati saya” kata Pekik terkekeh. Gaya aslinya
muncul, kritis terhadap situasi serba tertindas pada rakyat kecil dan terkesan
sinis. Ia bicara ceplas-ceplos saja.
Eh, seminggu yang lalu, tiba-tiba
seorang sahabat menghadiahi saya dengan sebuah buku. Judulnya adalah “Untuk Apa
Seni”; sebuah seri buku humaniora dari Universitas Parahiangan Bandung yang
dieditori oleh Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika yang saat ini menjabat
sebagai Direktur Pasca Sarjana UNPAR, yang sekaligus juga berprofesi sebagai
Dewan Kurator di Selasar Sunaryo Art
Space Bandung. Saya akan kutipkan beberapa patah kata Bambang Sugiharto
yang mengispirasi saya dan menguatkan prinsip saya tentang hakekat hidup dalam
seni.
Estetika
keindahan sebagai ‘Filsafat Keindahan’ kami anggap terlalu abstrak, kurang
relevan untuk mengimbangi dominasi rasionalitas ilmiah yang teknis dan dogmatis.
Yang diperlukan adalah apresiasi konkret atas dunia seni, yang selama ini
umumnya dianggap tidak penting; yaitu apresiasi atas pentingnya logika-rasa,
bahasa hati, kompleksitas pengalaman dan kreativitas imajinasi – aspek-aspek
dunia seni yang mendasar namun jarang diperhatikan. Orang sering lupa bahwa
inti pendidikan yang menumbuhkan kualitas kemanusia- an sebenarnya adalah
pendidikan hati; ‘The heart of education
is education of heart’ di situlah persisnya peran seni. Terlalu sering
‘seni’ disalahpahami seolah hanya urusan keindahan, hiasan, keterampilan
ataupun hiburan (Sugiharto, 2013: 9).
Sharing
dalam obrolan via blog arteastism lewat ‘Seni
Itu Untuk Apa? (#1)’ ini tidak berusaha saya jadikan ajang curahan hati sendiri
saja, namun media ini (yang tadinya berupa ajang discuss of my self) diharapkan akan mengundang tanggapan atau opini
yang lain. ‘Seni Itu Untuk Apa? (#1) ini juga akan dilanjutkan dengan obrolan ‘Seni
Itu Untuk Apa? (#2) di blog yang sama, … hatur nuhun.
Seni yang dimaksud pada pengalaman rasa dan teknis yang dimunculkan dlm bentuk karya (benda/bunyi/gerak/aktivitas) . Persaualan distribusi dan kelanjutan perjalanan karya adalah daya tarik lain.
ReplyDeleteSeni itu untuk diri sendiri dan orang lain.
ReplyDeleteowya buk, sya mau tanya, kan banyak tuh ya seniman yang memiliki artisan, atau bahkan banyak juga seniman yang hanya memiliki konsep, tapi yang mengerjakan karya seni nya adalah artisannya. lantas makna seni yang sesungguhnya itu dimana nya ? pada konsepnya ? prosesnya ? atau apanya ya ?
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSeni untuk siapa? Dan seni untuk apa?
ReplyDeleteseni itu untuk lebih pada pemaknaan atas pengalaman hidup
ReplyDeletebarangkali memang persoalan sudut pandang masyarakat. Masyarakat (di lingkungan saya) lebih mengartikan 'Seni' sebagai produk kerja nyata dari pada hanya sekedar 'diskusi tetekbengek'
ReplyDelete