Monday, June 16, 2014

SENI ITU UNTUK APA? (#1)

         Pada suatu hari di akhir bulan Mei 2014, saya semobil dengan kerabat sejurusan di Fakultas Sastra – Universitas Negeri Malang, dalam perjalanan dari bandara udara Juanda Surabaya ke Malang (mudik). Dalam perjalanan berdua sekitar 2 jam yang ditemani seorang sopir travel tersebut, telah mengurai sejumlah diskusi dan menambah sejumlah perdebatan dalam hati, sekaligus makin menambah kegelisahan yang perlu diurai lanjut dalam forum ini. Diskusi tersebut diawali dari cerita saya tentang keterlibatan saya dalam pameran seni rupa bertajuk ‘The Other Side Of Woman Educators’, yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada tanggal 25 April 2014 yang lalu. Cerita saya kemudian dilanjutkan oleh cerita dari kerabat sejurusan tadi dengan cerita tentang keterlibatan ibu-ibu (muda mungkin ya?) di sekitar kompleks perumahan beliau yang punya hobi melukis, dan para ibu tersebut  belajar melukis dengan didampingi oleh sahabat seniman dari Batu. Nah, kemudian dari sinilah kegelisahan saya mulai terusik. Saya berkomentar dalam hati: “Bagus lah! Setataran ibu-ibu rumah tangga di kompleks masih ada yang sadar seni”, sambil menunggu komentar sang kerabat selanjutnya. Benar saja, kerabat sejurusan saya itupun berkomentar: “Baik saja sih les melukis seperti itu dilakukan untuk sekedar menyalurkan hobi, tapi kemudian  manfaatnya dan prospek ke depannya buat apa?”

            Pada saat itu saya hanya berkomentar kecil untuk memberikan tanggapan atas komentar kerabat sejurusan itu, tanpa berupaya untuk masuk dalam diskusi yang lebih panjang di perjalanan yang relatif pendek tersebut. Saya hanya mencoba meyakinkan masa depan seni dengan mengutip ungkapan Djoko Pekik ketika diwawancara oleh Kompas kira-kira sebulan yang lalu dalam kolom berjudul ‘Djoko Pekik – Buaya Muntah’, sebagai berikut: “apakah lukisan ini pesanan orang?” Jawab Joko Pekik adalah sebagai berikut: “Tidak ada (orang) pesan, yang pesan hati saya” kata Pekik terkekeh. Gaya aslinya muncul, kritis terhadap situasi serba tertindas pada rakyat kecil dan terkesan sinis. Ia bicara ceplas-ceplos saja.
            Eh, seminggu yang lalu, tiba-tiba seorang sahabat menghadiahi saya dengan sebuah buku. Judulnya adalah “Untuk Apa Seni”; sebuah seri buku humaniora dari Universitas Parahiangan Bandung yang dieditori oleh Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana UNPAR, yang sekaligus juga berprofesi sebagai Dewan Kurator di Selasar Sunaryo Art Space Bandung. Saya akan kutipkan beberapa patah kata Bambang Sugiharto yang mengispirasi saya dan menguatkan prinsip saya tentang hakekat hidup dalam seni.
       Estetika keindahan sebagai ‘Filsafat Keindahan’ kami anggap terlalu abstrak, kurang relevan untuk mengimbangi dominasi rasionalitas ilmiah yang teknis dan dogmatis. Yang diperlukan adalah apresiasi konkret atas dunia seni, yang selama ini umumnya dianggap tidak penting; yaitu apresiasi atas pentingnya logika-rasa, bahasa hati, kompleksitas pengalaman dan kreativitas imajinasi – aspek-aspek dunia seni yang mendasar namun jarang diperhatikan. Orang sering lupa bahwa inti pendidikan yang menumbuhkan kualitas kemanusia- an sebenarnya adalah pendidikan hati; ‘The heart of education is education of heart’ di situlah persisnya peran seni. Terlalu sering ‘seni’ disalahpahami seolah hanya urusan keindahan, hiasan, keterampilan ataupun hiburan (Sugiharto, 2013: 9).
            Sharing dalam obrolan via blog arteastism lewat ‘Seni Itu Untuk Apa? (#1)’ ini tidak berusaha saya jadikan ajang curahan hati sendiri saja, namun media ini (yang tadinya berupa ajang discuss of my self) diharapkan akan mengundang tanggapan atau opini yang lain. ‘Seni Itu Untuk Apa? (#1) ini juga akan dilanjutkan dengan obrolan ‘Seni Itu Untuk Apa? (#2) di blog yang sama, … hatur nuhun.

Malang, 16 Mei 2014, Lilik Indrawati, dosen jurusan Seni & Desain - Fakultas Sastra-Universitas Negeri Malang

6 comments:

  1. Seni yang dimaksud pada pengalaman rasa dan teknis yang dimunculkan dlm bentuk karya (benda/bunyi/gerak/aktivitas) . Persaualan distribusi dan kelanjutan perjalanan karya adalah daya tarik lain.

    ReplyDelete
  2. Seni itu untuk diri sendiri dan orang lain.

    owya buk, sya mau tanya, kan banyak tuh ya seniman yang memiliki artisan, atau bahkan banyak juga seniman yang hanya memiliki konsep, tapi yang mengerjakan karya seni nya adalah artisannya. lantas makna seni yang sesungguhnya itu dimana nya ? pada konsepnya ? prosesnya ? atau apanya ya ?

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Seni untuk siapa? Dan seni untuk apa?

    ReplyDelete
  5. seni itu untuk lebih pada pemaknaan atas pengalaman hidup

    ReplyDelete
  6. barangkali memang persoalan sudut pandang masyarakat. Masyarakat (di lingkungan saya) lebih mengartikan 'Seni' sebagai produk kerja nyata dari pada hanya sekedar 'diskusi tetekbengek'

    ReplyDelete