Hari
Jum’at tanggal 20 Juni 2014 kemarin, saya membaca opini Kompas yang ditulis
oleh Iwan Pranoto, seorang Guru Besar Matematika ITB, yang berjudul ‘Tentang
TRIMS’. Pada dasarnya dalam tulisan
tersebut, Profesor Iwan Pranoto mengungkapkan akan pentingnya peran seni dalam
kehidupan manusia. Bahkan dalam tulisan itu juga dikemukakan keyakinan Steve
Jobs, bahwa kreativitas dan inovasi STEM (science,
technology, engineering, and mathematics) membutuhkan unsur seni dan
kemanusia-an. Selanjutnya Iwan Pranoto juga mengemukakan bahwa: “Dalam
pendidikan klasik, kegiatan berkesenian merupakan unsur yang tak terpisahkan.
Seperti dalam pendidikan liberal art,
yang bertujuan agar pelajar mengembangkan dirinya untuk menjadi warga negara
yang berpikir merdeka dan peduli, seni adalah salah satu wahananya.”
Seni
itu untuk apa? Hal itu masih selalu mengurai perdebatan panjang, seperti kata
Bambang Sugiharto (2013) lagi, bahwa seni adalah fenomena misterius yang
sekilas adalah sesuatu yang tidak pokok, tidak penting! Bagi kehidupan yang
hanya dikelola berdasarkan nalar ilmiah-teknologis yang memuja perhitungan,
objektivitas dan efesiensi, serta dikuasai oleh pencarian keuntungan ekonomi;
seni adalah kesia-siaan, berlebihan, dan kegenitan subjektif, dianggap sebagai
pemborosan, demi tujuan yang tak bisa dimengerti.
Kutub
diskusi yang sepintas tampak selalu berseberangan telah banyak dijawab pula dalam fenomena TRIMS
di opini di Kompas 20 Juni 2014 yang lalu
oleh Profesor Iwan Pranoto, bahwa di dunia baru mendatang, seni bukan lagi
sekedar pelengkap kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri haruslah seni.
Memang, “bagi Indonesia sekarang, kebijakan pendidikan umum yang menyegregasi
keilmuan dan menomor-duakan pendidikan seni perlu dikenali, dan dikoreksi.”
(Pranoto, 2014)
Lalu
seni yang mana, atau seni yang bagaimana yang paling menyentuh pendidikan
manusia? Sayalah yang akan berteriak paling keras untuk mengatakan: “Seni
Murni!”. Karena “seni murni adalah wahana utama pendidikan hati, strategi untuk
memperdalam pengalaman, sarana yang memungkinkan anak mengenali kerumitan dan
kedalaman ruhnya sendiri” (Sugiharto, 20013). Seni menghidupkan segala hal,
memberi nyawa, memandang semua sebagai bagian dari hidup kita. Seni cenderung
merawat, mengaggumi, dan menghayati. Seni adalah hakekat dari kehidupan itu
sendiri, yang diawali dari cinta kasih, dan akan diakhiri dengan cinta-kasih
juga. Seni seperti cinta-kasih itu sendiri, ‘menerima apa adanya, tidak memegahkan
diri, tidak sombong, tidak pernah menuntut, selalu memberi…memberikan nyawanya,
ruhnya’. Seni merupakan sebuah urgensi!
Malang,
22 Juni 2014, Lilik Indrawati, dosen jurusan Seni & Desain - Fakultas
Sastra-Universitas Negeri Malang
Jika seni msh mengeksklusifkan diri, dan "memistiskan" dirinya sebagai object, maka selama it seni seolah berada di ruang tertutup yang hanya akan di hayati oleh kalangan terbatas..
ReplyDeleteSy teringat kasus artjog kmrn yg katanya mmg tmptnya orang2 ingin narsis berphoto selfie..
Dan ad wacana katanya, harusnya harga tiket dinaikkan, biar yg dtg hny yg mau menikmati saja..blablabla
ketika sy dtg ksana, ya
smpt bingung
krn org2 mmg sgt sibuk berphoto narsis ketimbang menikmati "sesuatu" dibalik karya tsbt..
tp sungguh dsayangkan jk ad yg b3rpikir menaikkanharga tikey utk membatasi pengunjung
jd seolah2 solusiny adl uang.
Ini apa bedanya sm politisasi ruang!?
mau mengeksklusif?
Jk mau merelfleksi, Justru yg perlu dibenahi adalah pd pola pendidikan dan pembelajaran ketika berhadapan dengan karya seni ataupun dlm beraktivitas seni
ini mlh akan berlaku jangka panjang
adanya penyadaran dlm ruang2 pendidikan..
yg akhirnya, setiap org akan punya sikap sndr dlm menghadapi karya seni
yg selfie biarkan selfie
dan yg menghayati lbh, biarlah menghayati lbh
msg2 punya ruangnya sndr utk menikmati sebuah karya