Sunday, June 22, 2014

SENI ITU UNTUK APA? (#2)

Hari Jum’at tanggal 20 Juni 2014 kemarin, saya membaca opini Kompas yang ditulis oleh Iwan Pranoto, seorang Guru Besar Matematika ITB, yang berjudul ‘Tentang TRIMS’.  Pada dasarnya dalam tulisan tersebut, Profesor Iwan Pranoto mengungkapkan akan pentingnya peran seni dalam kehidupan manusia. Bahkan dalam tulisan itu juga dikemukakan keyakinan Steve Jobs, bahwa kreativitas dan inovasi STEM (science, technology, engineering, and mathematics) membutuhkan unsur seni dan kemanusia-an. Selanjutnya Iwan Pranoto juga mengemukakan bahwa: “Dalam pendidikan klasik, kegiatan berkesenian merupakan unsur yang tak terpisahkan. Seperti dalam pendidikan liberal art, yang bertujuan agar pelajar mengembangkan dirinya untuk menjadi warga negara yang berpikir merdeka dan peduli, seni adalah salah satu wahananya.”


Seni itu untuk apa? Hal itu masih selalu mengurai perdebatan panjang, seperti kata Bambang Sugiharto (2013) lagi, bahwa seni adalah fenomena misterius yang sekilas adalah sesuatu yang tidak pokok, tidak penting! Bagi kehidupan yang hanya dikelola berdasarkan nalar ilmiah-teknologis yang memuja perhitungan, objektivitas dan efesiensi, serta dikuasai oleh pencarian keuntungan ekonomi; seni adalah kesia-siaan, berlebihan, dan kegenitan subjektif, dianggap sebagai pemborosan, demi tujuan yang tak bisa dimengerti.
Kutub diskusi yang sepintas tampak selalu berseberangan  telah banyak dijawab pula dalam fenomena TRIMS di  opini di Kompas 20 Juni 2014 yang lalu oleh Profesor Iwan Pranoto, bahwa di dunia baru mendatang, seni bukan lagi sekedar pelengkap kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri haruslah seni. Memang, “bagi Indonesia sekarang, kebijakan pendidikan umum yang menyegregasi keilmuan dan menomor-duakan pendidikan seni perlu dikenali, dan dikoreksi.” (Pranoto, 2014)
Lalu seni yang mana, atau seni yang bagaimana yang paling menyentuh pendidikan manusia? Sayalah yang akan berteriak paling keras untuk mengatakan: “Seni Murni!”. Karena “seni murni adalah wahana utama pendidikan hati, strategi untuk memperdalam pengalaman, sarana yang memungkinkan anak mengenali kerumitan dan kedalaman ruhnya sendiri” (Sugiharto, 20013). Seni menghidupkan segala hal, memberi nyawa, memandang semua sebagai bagian dari hidup kita. Seni cenderung merawat, mengaggumi, dan menghayati. Seni adalah hakekat dari kehidupan itu sendiri, yang diawali dari cinta kasih, dan akan diakhiri dengan cinta-kasih juga. Seni seperti cinta-kasih itu sendiri, ‘menerima apa adanya, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak pernah menuntut, selalu memberi…memberikan nyawanya, ruhnya’. Seni merupakan sebuah urgensi!
Malang, 22 Juni 2014, Lilik Indrawati, dosen jurusan Seni & Desain - Fakultas Sastra-Universitas Negeri Malang

1 comment:

  1. Jika seni msh mengeksklusifkan diri, dan "memistiskan" dirinya sebagai object, maka selama it seni seolah berada di ruang tertutup yang hanya akan di hayati oleh kalangan terbatas..
    Sy teringat kasus artjog kmrn yg katanya mmg tmptnya orang2 ingin narsis berphoto selfie..
    Dan ad wacana katanya, harusnya harga tiket dinaikkan, biar yg dtg hny yg mau menikmati saja..blablabla

    ketika sy dtg ksana, ya
    smpt bingung
    krn org2 mmg sgt sibuk berphoto narsis ketimbang menikmati "sesuatu" dibalik karya tsbt..
    tp sungguh dsayangkan jk ad yg b3rpikir menaikkanharga tikey utk membatasi pengunjung
    jd seolah2 solusiny adl uang.
    Ini apa bedanya sm politisasi ruang!?
    mau mengeksklusif?

    Jk mau merelfleksi, Justru yg perlu dibenahi adalah pd pola pendidikan dan pembelajaran ketika berhadapan dengan karya seni ataupun dlm beraktivitas seni
    ini mlh akan berlaku jangka panjang
    adanya penyadaran dlm ruang2 pendidikan..
    yg akhirnya, setiap org akan punya sikap sndr dlm menghadapi karya seni
    yg selfie biarkan selfie
    dan yg menghayati lbh, biarlah menghayati lbh
    msg2 punya ruangnya sndr utk menikmati sebuah karya

    ReplyDelete