Masih
terinspirasi dan tertarik untuk mengutip pendapat Bambang Sugiharto (2013:39),
berikut ini adalah kutipan yang saya pilih: “Seni murni ibarat menu empat sehat
lima sempurna, yang penting untuk nutrisi ruh batin kita. Seni terapan
(dekoratif, pop, hiburan) ibarat snack.
Kalau batin hanya diberi makan snack belaka
maka ia akan kurang gizi, malnutrisi, tidak berkembang menjadi matang dan
mendalam.” Demikian ungkapan Bambang Sugiharto yang akhirnya bisa
menggaristebali keyakinan saya bahwa keberadaan seni dan berkesenian murni itu
membuat hidup batin manusia menjadi lebih sehat.
Dalam
buku yang sama, Bambang Sugiharto juga mengemukakan delapan puluh persen (80%)
dari kehidupan kita sebetulnya kita hayati dengan perasaan dan imajinasi, bukan
dengan pikiran! Keunikan manusia sebetulnya bukan terletak pada kecanggihan
akal budinya, melainkan pada perasaan dan imajinasinya. “Dengan kepekaan empati
kita dipertajam, spektrum perasaan kita diperluas, diperkaya dan diperdalam. Dengan
itu pula solidaritas atau belarasa antar manusia dipupuk dan disuburkan”
(Sugiharto, 2013: 38). Di situlah kemudian kita seharusnya juga akan semakin menyadari
bahwa menjadi sangat tepat jika seni menjadi bagian dari pendidikan anak bangsa,
yakni pendidikan mental dan pendidikan karakter, melalui aktivitas perasaan dan
imajinasi dalam kegiatan apresiasi seni dan kreasi seni.
Namun
dalam kehidupan yang kian dikelola oleh pasar, “… seni tak lebih dari sekedar
desain, sekedar siasat komunikasi pemasaran, atau lebih gawat lagi, semacam
strategi pembiusan demi meraih berbagai keuntungan…” (Sugiharto, 2013:15). Padahal sejatinya manusia adalah makhluk
ruhani, dimana ruh atau hati adalah bagian terdalam dari diri. Penanaman
nilai-nilai dengan mengenali kerumitan batin manusia, jatuh bangunnya dalam
pergumulan nilai, aneka benturan yang dialami, kerinduan yang paling
tersembunyi, dan sebagainya, sangat mungkin dikenali lewat seni dalam segala
kompleksitasnya.
“Seni tak hanya menampilkan
‘keindahan’, melainkan terutama ‘kebenaran’ realitas kehidupan ruh atau hati
manusia. Seni dapat menyingkapkan aneka lapisan kehidupan yang pelik: lapisan
fisik, emosi, intelek, intuisi, hingga lapisan batin terdalam dan terumit”
(Sugiharto, 2013:39).
menurut saya seni itu untuk kita (orang yang paham seni) dari sudut makna atau isinya dan untuk orang lain (yg tidak paham seni) dari sudut penampilannya. karena dalam seni kita tidak hanya berbicara tentang keindahan penampilan saja, tetapi isi dari karya tersebut yang harus kita tahu dan mengerti. jadi tidak asal-asalan dalam proses penciptaannya.
ReplyDeleteyang dibicarakan oleh seni sebetulnya adalah 'kebenaran' eksistensial. hidup ini sesungguhnya dialami sebagai apa nyatanya? 'benar' itu dalam arti 'nyatanya' dialami begini. kebenaran ini, kebenaran yang nyata kita hadapi yang seringkali ambigu, tidak jelas, penuh kontradiksi, kehidupan yang kita impikan, kehidupan yang patah, kehidupan yang indan dan seterusnya. itu yang rumit, yang kompleks itulah kebenaran seperti itu yang dilukiskan/diartikulasikan dalam lukisan,teater, musik novel dan film yang bermutu. dari sudut itu manusia membutuhkan seni. karena hati dan perasaan manusia adalah bagian ruh manusia membutuhkan makanan, membutuhkan gizi dan itu seni yang memberikannya.
ReplyDeleteSeni itu untuk mencairkan kekakuan hidup. :-)
ReplyDeleteseni lebih ke kebutuhan hidup manusia, dengan seni orang dapat mengetahui dan memecahkan segala kompleksitas kehidupan.,
ReplyDeleteseni itu adalah salah satu wujud rasa syukur... siapa yang tidak senang dengan karya seni?yang "tahu" mesti senang...hehehe
ReplyDelete