Sunday, July 13, 2014

SENI ITU UNTUK APA? (#5)

        Sudah hampir lima minggu (sejak saya menulis “SENI ITU UNTUK APA? (#1)” di 16 Juni 2014), ternyata saya telah berdiskusi secara tak langsung dengan mahasiswa dan mantan mahasiswa yang telah rela memberikan apresiasinya atas tulisan saya melalui comment di blog arteastism. Meskipun ada juga komentar dari sejawat dosen pada tulisan saya lewat Whatsapp sebagai berikut: “…anything you’ll say”. Terimakasih sahabat-sahabatku… Sekarang sampailah saya pada “SENI ITU UNTUK APA? (#5).

Sedikit demi sedikit mulai terurailah kegelisahan saya atas kesalahpahaman banyak orang tentang seni. Lewat ‘Filsafat Seni’ nya Jacob Sumardjo (2000), saya juga mendapatkan jawaban atas kesalahpahaman orang tentang seni, dan bagaimana kita bisa mencapai kesepahaman tentang seni. Jadi, mungkin tulisan ini akan menjadi tulisan yang terakhir untuk seri tulisan pendek saya yang bertajuk “SENI ITU UNTUK APA?” di blog arteastism.
            Kebetulan juga (kebetulan atau karena kehendak Allah ya?), pagi tadi, hari Minggu tanggal 13 Juli 2014,  saya membaca rubrik ‘Catatan Budaya’ di Kompas Minggu yang ditulis oleh Gunawan Raharja, yang mengaku sebagai penulis dan seorang buruh film. Artikelnya berjudul “Berkesenian Itu Sendiri dan Kesepian”. Dalam artikel tersebut Raharja banyak memperbincangkan antara lain tentang semacam kesalahpahaman, keberjarakan, keanehan, sampai keterpinggiran seni dalam masyarakat. Perenungan dan kontemplasi saya menjadi semakin intens  dan panjang, ketika saya mencoba mengulang-ulangi membaca, seakan saya mendapat dukungan atas keyakinan saya tentang misteri seni dan berkesenian. Berikut akan saya kutip kata-kata Raharja yang menginspirasi saya dan saya anggap penuh makna itu:
                                    Berkesenian adalah sebuah kerelaan. Rela untuk tidak dipahami dan rela untuk tidak dimengerti. Tidak ada defenisi yang tepat untuk mengatakan mengapa seorang seniman rela untuk menghabiskan hidupnya untuk sebuah konsep kesenian yang diyakininya. Dengan mengorbankan nilai riil yang dipahami manusia lainnya sebagai sinyal kebahagiaan. Ada seniman yang rela untuk berpisah dengan keluarganya, menghabiskan banyak uang atas nama kesenian.
                                    Laura H Chapman … mengatakan bahwa kesenian mempunyai fungsi memberi arti pencerahan bagi masyarakat. Sebuah pencerahan tidak selalu diresepsi dengan tepuk tangan dan penghargaan di atas panggung. Bisa jadi hanya menjadi serpihan daun di atas tanah, yang hancur perlahan tetapi menjadi penyubur bagi bumi (Raharja, 2014).

Malang, 12 Juli 2014, Lilik Indrawati, dosen jurusan Seni & Desain - Fakultas Sastra-Universitas Negeri Malang

3 comments:

  1. ditunggu tulisan berikutnya.. :)

    ReplyDelete
  2. seni itu untuk diri sendiri dalam konteks memuaskan hasrat berkesimanan.

    ReplyDelete
  3. saya sependapat dengan yang terurai. tapi selalu ada sebuah pertentangan dan mysteri dibalik seni

    ReplyDelete